BANJARMASINLENTERAKALIMANTAN.NET-

Eskalasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang meluas di Kalimantan Selatan menyedot perhatian serius kepemimpinan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI. Masalah krusial ini menjadi agenda utama saat Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, menggelar kunjungan kerja dan bertemu langsung dengan Gubernur Kalimantan Selatan, H. Muhidin, di Banjarmasin, Selasa (15/9/2026).

Pertemuan lintas lembaga yang berlangsung di kediaman pribadi Gubernur kawasan Jalan Lingkar Selatan Dalam tersebut turut didampingi oleh Sekretaris Daerah Provinsi Kalsel H. Muhammad Syarifuddin, anggota DPR RI Dapil Kalsel I Pangeran Gusti Khairul Saleh, Tim Ahli Gubernur, jajaran Kepala SKPD, Direktur Bank Kalsel, hingga Kepala OJK Kalsel.

Dalam dialog tertutup tersebut, kedua pihak bertukar data mendalam terkait dampak karhutla yang kini merembet pada gangguan kesehatan masyarakat, krisis lingkungan, hingga kelumpuhan aktivitas ekonomi dan konektivitas antardaerah.

Eddy Soeparno menegaskan ancaman karhutla di Kalimantan tidak bisa lagi ditangani dengan skala respons standar daerah. Menurutnya, mobilisasi sumber daya besar-besaran yang melibatkan intervensi lintas kementerian dan lembaga sudah sangat mendesak.

“Penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan perlu dikoordinasikan langsung di bawah komando Presiden Prabowo. Langkah ini diperlukan seiring meluasnya dampak karhutla terhadap masyarakat, lingkungan, kesehatan, konektivitas, hingga aktivitas ekonomi,” tegas Eddy.

Usai menyepakati urgensi penanganan karhutla bersama Pemprov Kalsel, rombongan MPR RI melanjutkan agenda kunjungan kerja ke kampus Universitas Lambung Mangkurat (ULM) Banjarmasin. Bertempat di Lecture Theater Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Eddy menggelar forum “MPR RI Goes to Campus” bersama Rektor ULM, Prof. Ahmad Alim Bachri, dan ratusan mahasiswa.

Mengusung tema “Transisi Energi untuk Membangun Ketahanan Energi dan Mencegah Krisis Iklim”, forum akademis ini dirancang sebagai ruang diskusi strategis bagi generasi muda untuk memahami keterkaitan antara penghentian perusakan lingkungan—termasuk akibat karhutla—dengan percepatan komitmen transisi energi bersih di Indonesia.

(Adpim/Yudha)