
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET
Selasa 06 Oktober 2026 Sungai Barito tak cuma menopang nadi perekonomian Kabupaten Murung Raya melalui kekayaan emas dan batu bara. Di balik riak air cokelat dan pusaran tenang di jantung Puruk Cahu, masyarakat Dayak Murung merawat cerita rakyat Memaksakan Telur Naga, sebuah kisah tutur kuno yang menjadi fondasi hukum adat dalam menjaga kelestarian alam.
Kisah ini berawal dari perkampungan Likun Puan—cikal bakal Kota Puruk Cahu. Sepasang suami istri miskin yang menggantungkan hidup dari sungai mendapati nasib sial saat musim paceklik ikan. Dalam keputusasaan, sang suami menemukan dua butir telur berukuran sebesar buah kelapa berwarna putih bersih dan berkilau keperakan di tepi Leta, area pusaran air dalam yang dikenal angker.
Benda tersebut merupakan Telur Naga Baputi, milik Naga Raja yang dipercaya sebagai penguasa Sungai Barito. Meski sang istri sempat mencegah dengan mengingatkan bahwa benda itu bukan hak mereka, desakan rasa lapar memicu keserakahan. Sang suami tetap membawa pulang dan mengonsumsi kedua telur tersebut pada malam hari.
Dampak buruk mendatangi mereka seketika. Tengah malam, tubuh sepasang suami istri itu terasa terbakar dan mengalami gatal hebat. Garukan pada kulit yang terluka perlahan berubah menjadi sisik keras berwarna hitam keemasan. Tubuh mereka memanjang dan membesar hingga merobohkan dinding rumah betang, sementara lidah mereka tak lagi mampu mengucap kata selain gerungan.
Sebelum wujud manusianya sirna sepenuhnya, sang suami sempat menyampaikan penyesalan mendalam kepada istrinya atas ketidakpatuhannya terhadap nasihat tersebut.
“Aku rasa semua yang terjadi pada diriku ini bermula dari telur yang kumakan. Telur itu adalah telur naga. Aku menyesal tidak mendengarkan nasihatmu. Tuhan telah menakdirkan aku menjadi naga, aku harus menerima takdirku,” tuturnya dalam versi tutur yang diyakini secara turun-temurun oleh warga Murung Raya.
Sebelum menceburkan diri ke dasar Sungai Barito, mereka sempat memberikan pesan terakhir kepada anak tunggal mereka terkait pertarungan yang bakal terjadi di dasar sungai melawan Naga Baputi.
“Besok akan terjadi pertempuran besar di dasar sungai antara kami dan Naga Baputi penjaga asli sungai. Jika air sungai berubah menjadi merah darah, kamilah yang kalah. Jika air sungai berubah putih seperti susu, maka kamilah yang menang dan akan menjadi penjaga baru sungai ini,” pesan mereka.
Keesokan harinya, di tengah cuaca terik, hujan rintik-rintik turun disertai munculnya pelangi yang membentang dari Puruk Cahu hingga Datah Sangkai. Tak lama kemudian, air Sungai Barito bergolak dan warnanya berubah menjadi putih pekat seperti susu—menandakan kemenangan sepasang suami istri tersebut yang kini berwujud Naga Barito.
Hingga saat ini, kemunculan pusaran air mendadak atau hilangnya batang kayu besar yang terseret arus di Sungai Barito kerap dikaitkan masyarakat setempat dengan keberadaan Sang Naga. Lebih dari sekadar mitos, folklore ini memuat doktrin moral Tira Tangka Balang bagi masyarakat Dayak Murung: larangan mengambil sesuatu yang bukan haknya, ancaman hilangnya kemanusiaan akibat keserakahan, serta pengingat pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem alam. (muslim)

