BANJARBARU LENTERAKALIMANTAN.NET Laju inflasi tahunan (year-on-year) di Kalimantan Selatan mencatatkan tren positif dengan melandai ke angka 4,28 persen. Capaian ini membaik sekitar 0,2 poin dibandingkan periode bulan sebelumnya yang berada di level 4,47 persen.

Kepala Biro Perekonomian Setda Provinsi Kalimantan Selatan, Eddy Elminsyah Jaya, mengungkapkan bahwa meski emas perhiasan menyumbang andil terbesar terhadap inflasi Kalsel dengan kontribusi mencapai 1,06 persen disusul komoditas beras, Pemprov memilih memfokuskan intervensi pada komoditas pangan. Langkah ini diambil karena dinamika harga emas dan BBM lebih banyak dipengaruhi oleh faktor global serta kebijakan pemerintah pusat.

“Kalau bicara emas dan BBM, itu intervensi nasional karena pengaruh globalnya cukup tinggi. Yang bisa kita intervensi secara langsung di daerah adalah harga pangan,” ujar Eddy usai mengikuti Rapat Pengendalian Inflasi bersama Kemendagri RI di Command Center Kalsel, Banjarbaru, Selasa (18/8/2026).

Guna menekan gejolak harga pangan, Pemprov Kalsel mengintensifkan Gerakan Pangan Murah (GPM) dan operasi pasar secara berkala berkolaborasi dengan pemerintah kabupaten/kota, Bank Indonesia, serta dinas terkait. Intervensi pasar ini krusial untuk mengamankan daya beli warga jelang masuknya momentum keagamaan Bulan Maulid Nabi Muhammad SAW yang memicu lonjakan konsumsi bahan pokok.

Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) menjadi salah satu wilayah dengan pengawasan ekstra karena tingkat inflasinya yang masih berada di atas 4 persen, terdorong oleh tradisi perayaan maulidan warga lokal yang cukup masif.

“Bulan Maulid ini permintaan bahan pokok sangat tinggi. Di Hulu Sungai Tengah, secara kultur setiap rumah melaksanakan maulidan, sehingga permintaan beras dan bahan pangan lainnya melonjak. Kita berkepentingan memperkuat koordinasi untuk menjaga ketersediaan barang dan melindungi daya beli masyarakat,” pungkas Eddy(mckalsel/lnk).