Foto: Istimewa

BANJARMASIN — LENTERAKALIMANTAN.NET
Kontestasi Pemilihan Rektor (Pilrek) Universitas Lambung Mangkurat (ULM) periode 2026–2030 resmi memasuki babak penentu di tingkat kementerian. Tiga calon rektor kini bersiap melakoni sesi wawancara mendalam dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) usai Senat ULM merampungkan pemungutan suara ulang pada 19 Agustus lalu.

Tahapan wawancara ini menjadi pemungkas dari rangkaian seleksi ketat kampus tertua dan terbesar di Kalimantan Selatan tersebut. Sesuai regulasi, penetapan rektor terpilih mengombinasikan 65 persen hak suara Senat ULM dan 35 persen hak suara dari Menteri.

Tiga figur yang mengantongi tiket ke tahap akhir berdasarkan nomor urut resmi yakni:
Nomor Urut 1: Dr. Rusmansyah, Drs., M.Pd.
Nomor Urut 2: Prof. Dr. Ahmad, S.E., M.Si.
Nomor Urut 3: Dr. Iwan Aflanie, dr., M.Kes., Sp.F., S.H.

Proses suksesi kepemimpinan di kampus berjuluk Kampus Kuning ini sempat mewarnai perhatian publik akibat adanya penyaringan ulang dan pergeseran jadwal. Namun, dinamika tersebut dinilai sebagai bentuk kontrol konstitusional untuk menjamin transparansi.

Ketua Dewan Pembina Forum Kerukunan dan Pemerhati Warga Kalimantan (FKPWK), H. Junaidi, menegaskan bahwa riak perbedaan pandangan selama proses pemilihan merupakan hal wajar dalam iklim demokrasi perguruan tinggi.

“Dinamika yang mengemuka harus dipahami secara jernih sebagai mekanisme checks and balances yang sehat demi menjaga akuntabilitas, transparansi, serta pemenuhan prosedur yang bersih,” ujar Junaidi.

Senada dengan itu, Ketua DPP FKPWK, Adv. H. Rachmad Fadillah, S.H., menyebut aspirasi tersebut memantulkan ekspektasi masyarakat Kalimantan Selatan terhadap reputasi ULM di kancah nasional.

“Performa dan prestasi yang ditorehkan oleh ULM tidak dapat dipisahkan dari reputasi dan martabat daerah Kalimantan Selatan secara keseluruhan,” kata Rachmad.

FKPWK pun mendesak agar seluruh elemen civitas akademika segera merapatkan barisan begitu keputusan resmi kementerian diterbitkan. Siapa pun figur yang terpilih diharapkan mendapat dukungan penuh dari guru besar, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Menurut Rachmad, tantangan persaingan global dan peningkatan mutu pendidikan tinggi tidak bisa diselesaikan oleh kerja individu seorang rektor semata.

“Kesolidan internal adalah modal utama. Prestasi gemilang mustahil terwujud tanpa kerja sama tim yang harmonis dan iklim akademik yang kondusif,” tuturnya.