
MURUNG RAYA, LENTERAKALIMANTAN.NET— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meluas hingga mendekati kebun karet dan permukiman warga di Desa Konut, Kecamatan Tanah Siang, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, Sabtu sore, 13 September 2026. Menghadapi ancaman si jago merah, Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Murung Raya, Bebie, memilih turun langsung ke lokasi bencana untuk mengomandoi pemadaman darurat bersama warga.
Bebie—politikus PDI Perjuangan sekaligus Ketua Fraksi PDI-P DPRD Murung Raya—bergabung di garis depan bersama jajaran Pemerintah Desa Konut, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), tokoh adat, tokoh agama, organisasi pemuda, hingga kader PKK. Menggunakan peralatan seadanya seperti cangkul, ember air, dan ranting pohon basah, tim gabungan memutus jalur isolasi perembetan api menuju pemukiman.
“Hari ini kita tidak bicara fraksi, tidak bicara lembaga. Hari ini kita bicara kemanusiaan,” ujar Bebie di sela-sela aksi pemadaman di lokasi karhutla, Sabtu sore. “Api tidak kenal siapa bupati, siapa anggota dewan. Api hanya kenal apa yang kita lakukan sekarang. Jadi mari kita bertindak.”
Setelah kobaran api berhasil dipadamkan dan lokasi dinyatakan aman dari ancaman perembetan, fokus penanganan bergeser dari aksi darurat ke langkah pencegahan kebijakan jangka panjang. Bebie mendorong Pemerintah Desa dan BPD Konut untuk segera menata ulang mitigasi bencana di tingkat lokal.
“Saya berharap Posko Siaga Karhutla diaktifkan kembali, patroli malam ditingkatkan, serta sosialisasi hukum dan dampak pembakaran lahan masuk ke setiap rumah. Kita harus bergerak dari reaktif menjadi preventif,” kata Bebie. Ia menegaskan, kesiapsiagaan bencana tidak selalu bergantung pada anggaran besar, melainkan pada kehadiran kepemimpinan desa dan kepedulian masyarakat.
Menurut Bebie, aksi gotong royong di Desa Konut merupakan refleksi dari kewajiban wakil rakyat untuk berada di tengah masyarakat saat krisis terjadi.
“Negara tidak akan terasa hadir jika wakilnya tidak pernah hadir. Gotong royong adalah DNA Murung Raya, dan DNA itu yang hari ini menyelamatkan Konut,” tuturnya.
Hingga Sabtu malam, tim gabungan masyarakat dan aparat desa masih bersiaga melakukan proses pendinginan (mopping up) di titik-titik sisa bara guna memastikan tidak ada timbulnya pemicu api baru akibat angin kemarau.

