MURUNG RAYA, LENTERAKALIMANTAN.NET — Di sudut pelosok Desa Tumbang Masao, Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah, sosok Neny Karmila saban hari menyambut anak-anak usia dini dengan senyum hangat. Guru honorer Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) ini tetap konsisten mengabdikan dirinya mendidik generasi muda setempat, meski hingga kini status kepegawaiannya belum terangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK).

Kehadiran Neny di ruang kelas bukan sekadar mengajar membaca dan berhitung, melainkan memberikan pengasuhan yang merangkul seluruh murid tanpa membeda-bedakan. Pendekatan penuh kesabaran dan kehangatan layaknya sosok ibu tersebut membuat anak-anak di Desa Tumbang Masao merasa nyaman dan bersemangat untuk datang ke sekolah setiap hari. Sikap ini pula yang membuatnya disegani oleh para orang tua murid serta masyarakat sekitar.

Kendati rekan sejawatnya bergantian beralih status kepegawaian, Neny memilih bertahan dan tidak berkecil hati. Ia menganggap profesinya di jalur pendidikan formal tingkat dasar ini sebagai bentuk pengabdian murni bagi masyarakat di daerah terpencil Murung Raya.

“Sebagai pengabdian, saya tidak pernah iri. Saya hanya berharap, suatu saat nanti keberuntungan akan datang pada waktunya,” ujar Neny lirih saat menceritakan harapannya, Sabtu (03/10/26)

Keteguhan Neny Karmila menjadi potret nyata perjuangan tenaga pendidik di garis depan wilayah akar rumput. Di tengah keterbatasan fasilitas dan kepastian status kesejahteraan, dedikasi guru honorer seperti Neny tetap menjadi pilar utama penyokong fondasi pendidikan anak usia dini di pedalaman Kalimantan Tengah.
(Muslim)