PURUK CAHU, LenteraKalimantan.net– Musim kemarau panjang yang disertai meningkatnya konsentrasi debu dan paparan kabut asap mulai mengancam keselamatan warga Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Menanggapi situasi sensitif ini, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Murung Raya mendesak pemerintah daerah untuk segera merombak total penanganan kesehatan dari pola reaktif menuju langkah preventif secara masif.

Anggota Komisi I DPRD Murung Raya bidang Pendidikan dan Kesehatan, Imanudin, S.Pd.I., menegaskan pentingnya intervensi cepat dari negara untuk mencegah munculnya lonjakan kasus penyakit sebelum kondisi masyarakat memburuk. Menurutnya, pemerintah daerah tidak boleh pasif dan sekadar menunggu penumpukan pasien di fasilitas kesehatan.

“Jika kita menunggu warga mengantre di Puskesmas, maka kita sudah kalah satu langkah dalam pencegahan,” kata Imanudin saat memberikan pernyataan resmi terkait ancaman kesehatan musim kemarau di Puruk Cahu, Sabtu (15/8)

Imanudin memaparkan bahwa fenomena kemarau panjang tahun ini membawa tiga gelombang persoalan kesehatan utama yang bergerak senyap namun berdampak fatal jika diabaikan:

  1. Gangguan Pernapasan dan ISPA: Terjadi akibat paparan intensif partikel kabut asap dan debu beterbangan yang memperburuk kualitas udara.

  2. Infeksi Kulit dan Diare: Dipicu oleh krisis ketersediaan air bersih serta penurunan kualitas sanitasi lingkungan masyarakat.

  3. Dehidrasi hingga Heatstroke: Mengancam kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia (lansia), dan para pekerja lapangan yang terpapar suhu ekstrem.

Ia menggarisbawahi bahwa efisiensi anggaran dan ketahanan daerah sangat bergantung pada pencegahan dini.

“Biaya untuk pencegahan akan selalu lebih rendah dibanding biaya menangani dampak wabah,” tegas Imanudin.

Guna memutus rantai penularan dan paparan penyakit, Komisi I DPRD Murung Raya mendorong Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan untuk mengambil tindakan protektif tanpa menunda waktu.

Pada sektor pendidikan, sekolah diminta menjadi garis pertahanan pertama melalui tindakan konkrit:

  • Menyediakan pasokan air minum yang aman di seluruh satuan pendidikan.

  • Membatasi dan mengurangi aktivitas siswa di luar ruang saat kualitas udara memburuk.

  • Mengintensifkan edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), termasuk kewajiban mencuci tangan, penggunaan masker, dan pemenuhan cairan tubuh siswa.

Imanudin mengingatkan bahwa anak-anak yang sehat hari ini merupakan investasi sekaligus fondasi utama pembangunan Murung Raya di masa depan.

Sementara itu, Dinas Kesehatan hingga jajaran Puskesmas di tingkat desa diminta memperluas jangkauan kerja pencegahan. Langkah yang harus segera direalisasikan meliputi sosialisasi masif bahaya kabut asap, penjaminan stok masker, obat ISPA, oralit, serta obat kulit, hingga pengaktifan unit layanan kesehatan keliling di daerah terpencil dan rawan bencana.

Selain jajaran birokrasi, sektor rumah tangga diminta mengambil peran aktif sebagai garda terdepan pencegahan. Masyarakat diimbau disiplin menggunakan masker saat beraktivitas di luar rumah, memperbanyak konsumsi air putih, menjaga kebersihan lingkungan, menutup rapat penampungan air, dan secara tegas menghentikan praktik pembakaran lahan.

Warga juga diminta tidak menunda pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala klinis seperti batuk berkepanjangan, demam tinggi, sesak napas, atau ruam kulit yang meluas.

Menutup pernyataannya, Imanudin menekankan bahwa pembangunan fisik berupa infrastruktur tidak akan berdampak maksimal tanpa ditopang oleh Sumber Daya Manusia (SDM) yang sehat.

“Tugas kita bukan hanya merespons saat warga sakit. Tugas kita adalah memastikan warga tidak jatuh sakit karena kelalaian dalam pencegahan,” pungkasnya.

Kemarau berkepanjangan memang akan berlalu, namun langkah konkret serta regulasi preventif yang diambil hari ini akan menjadi tolok ukur utama ketahanan sistem kesehatan masyarakat Murung Raya pada masa-masa mendatang.

(Muslim)