
Banjarbaru — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Kobaran api di atas permukaan tanah gambut Kalimantan Selatan boleh jadi tampak surut, namun ancaman nyata justru mengintai di kedalaman tanah. Menghadapi potensi bencana kabut asap berkepanjangan, Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan bersama Pemerintah Pusat dan Forkopimda mempercepat pemadaman berfokus pada titik api bawah tanah (ground fire).
Gubernur Kalimantan Selatan H. Muhidin menegaskan bahwa pemadaman konvensional dari atas permukaan tidak lagi cukup. Struktur tanah gambut yang mengering membuat bara panas mengendap di kedalaman dan terus memunculkan asap tebal.
“Setelah kemarin kami melakukan pemadaman di daerah sini, ternyata asapnya masih ada. Setelah digali ternyata di bawahnya ini masih ada bara,” kata Muhidin saat meninjau lahan gambut di kawasan Guntung Damar, Banjarbaru, Minggu, 23 Agustus 2026.
Mengenakan sepatu boots, kacamata pelindung, dan rompi lapangan, Muhidin berdiri di atas hamparan tanah hitam bekas terbakar sembari mengarahkan penyemprotan air ke titik-titik yang masih mengusulkan asap. Ia menekankan bahaya laten jika bara gambut tidak disiram hingga benar-benar jenuh air.
“Karena di sini lahan gambut, takutnya nanti malah terulang berhari-hari asapnya terus ada,” ujarnya.
Penanganan ekstra ketat ini berpatokan pada peta kerawanan terbaru. Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI sekaligus Koordinator Penanganan Karhutla Kalimantan, Hanif Faisol Nurofiq, membeberkan bahwa sumber utama asap di Kalsel terkonsentrasi di tiga titik krusial.
“Ada tiga lokasi penyebab utama kabut asap di Kalsel. Guntung Damar, kawasan Hutan Lindung Liang Anggang, dan Pengayuan dan Peramuan,” ujar Hanif usai memimpin rapat koordinasi penanganan Karhutla di Dinas Kehutanan Provinsi Kalsel.
Areal terdampak pada ketiga zona prioritas tersebut mencakup luasan yang signifikan:
◾Pengayuan dan Peramuan: ±753,40 hektare
◾Hutan Lindung Liang Anggang dan sekitarnya: ±167,50 hektare
◾Guntung Damar: ±121,40 hektare
Dengan akumulasi luasan menembus lebih dari 1.000 hektare, pola penanganan parsial dianggap usang. Ditambah prediksi BMKG terkait durasi kemarau yang masih panjang, pemerintah memutuskan untuk menggelar operasi pemadaman masif dan terpadu.
“Untuk itu, setelah tadi beberapa kali kita koordinasi dengan Pemprov Kalsel, kita akan mempercepat penanganannya sebagaimana arahan dari Pak Gubernur tadi. Apalagi menurut BMKG kemarau ini akan panjang,” kata Hanif.
Untuk memadamkan bara bawah tanah, skema pembasahan (rewetting) bakal dijalankan dengan mengalirkan air dari bendungan menuju kanal-kanal di sekitar lokasi Karhutla.
Guna mendukung operasi ini, sebanyak 300 unit pompa air dikerahkan dan dibagi secara merata—masing-masing 100 unit—ke tiga zona merah (Guntung Damar, Pengayuan, dan Hutan Lindung). Kolaborasi pengerahan armada pompa ini bersumber dari:
◾Pemprov Kalsel: 120 unit
◾Kemitraan Swasta (Haji Isam): 100 unit
◾Kementerian Pertahanan: 50 unit
◾Kementerian Pertanian: 30 unit.
Di tengah efisiensi anggaran daerah, dukungan dana hibah pembiayaan senilai Rp7,6 miliar dari pengusaha lokal Haji Isam turut dikucurkan untuk menopang biaya operasional pemadaman intensif selama dua pekan ke depan.
Sebelum aksi lapangan di Guntung Damar, konsolidasi taktis dipatok dalam rapat koordinasi di VIP Room Bandara Syamsudin Noor. Rapat tersebut dihadiri jajaran lengkap Forkopimda Kalsel, mulai dari Kapolda Kalsel, Danrem, Kabinda, Danlanud, Danlanal, Komandan Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XIII Laksamana Muda TNI Sumarji Bimoaji, hingga jajaran BPBD Kalsel.
Sinergi terpadu yang melibatkan pengerahan personel darat, ketersediaan armada mobil tangki, pasokan air kanal, hingga dukungan water bombing udara ini ditargetkan mampu menuntaskan persoalan kabut asap Kalsel secara serentak dalam kurun waktu dua minggu.
(Adpim/Lenka)

