Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Imanudin.

PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-

Di tengah roda pembangunan Kabupaten Murung Raya yang terus berputar, bayang-bayang ketimpangan masih membayangi para pekerja di lapisan akar rumput. Mulai dari buruh harian lepas, petani, pengusaha kebun, peternak, pelaku UMKM, hingga pengrajin kayu dan rotan—mereka yang saban hari memeras keringat di jalan halal justru kerap dikesampingkan di tanah lahirnya sendiri.

Kondisi tersebut memantik kritik tajam dari Anggota DPRD Kabupaten Murung Raya Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Imanudin. Dalam keterangannya saat momentum program Jumat Berkah, ia menegaskan keberadaan para pekerja lokal merupakan tiang penyangga utama perekonomian serta penjaga marwah daerah yang dijuluki Bumi Tana Malai Tolung Lingu tersebut.

“Siapa yang membangun rumah kita? Buruh harian lepas. Siapa yang memberi kita makan? Petani dan pengusaha kebun. Siapa yang menggerakkan ekonomi kampung? UMKM dan peternak. Tanpa keringat mereka, gedung megah tidak akan berdiri,” tegas Imanudin di Puruk Cahu, Kamis (06/11/26)

Imanudin menyoroti kontras sosial yang kerap terjadi antara integritas pekerja tingkat bawah dengan perilaku oknum pejabat atau elit yang menyalahgunakan wewenang. Menurutnya, kerja keras berlandaskan nilai-nilai kejujuran jauh lebih mulia dibandingkan kepintaran yang dipakai untuk memperkaya diri atau tindakan koruptif.

“Bekerja dengan tenaga dan meneteskan keringat di jalan yang benar lebih baik dari seorang pemikir yang menyalahgunakan kepintaran dan kelebihannya,” ujar Imanudin.

Ia menambahkan, ilmu dan kepintaran sejatinya adalah anugerah. Namun, jika anugerah tersebut digunakan untuk menipu dan menyimpang dari aturan agama maupun ekspektasi publik, hal itu justru berujung sebagai bencana bagi daerah.

Lebih jauh, wakil rakyat dari PKS ini mengimbau seluruh pihak—khususnya pemangku kebijakan di Murung Raya—agar tidak menatap keadilan hanya dari perspektif hierarki atas semata. Keadilan sosial, menurutnya, sering kali tumbuh dan dijaga oleh masyarakat lapisan bawah yang konsisten memegang teguh nilai keikhlasan dan norma halal.

“Contohilah kejujuran dan keikhlasan mereka. Ilmu dan iman untuk menegakkan keadilan bukan cuma terlihat datang dari atas, terkadang juga bisa hadir dari samping kiri-kanan, dan bahkan tumbuh dari lapisan terbawah,” imbuhnya.

Menutup pernyataannya, Imanudin mengingatkan para pemegang kekuasaan bahwa kedudukan politis maupun birokrasi pada hakikatnya bersifat sementara dan harus dipertanggungjawabkan secara sosial maupun spiritual.

“Jabatan cuma titipan amanah. Yang kuat hendaklah melindungi yang lemah. Yang pintar dan cerdas itu anugerah, gunakanlah untuk menegakkan kebenaran,” pungkas Imanudin.

(Muslim)