
BANJARBARU LENTERAKALIMANTAN.NET
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kalimantan Selatan memperkuat sistem tata air dan pembasahan di kawasan rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) untuk menjaga kelembapan gambut.
Upaya dilakukan melalui pengaturan muka air menggunakan saluran irigasi, embung, tabat atau kisdam, serta pintu-pintu air. Langkah tersebut ditujukan untuk mencegah gambut mengering sehingga lebih rentan terbakar.
Kepala Dinas PUPR Kalsel M. Yasin Toyib melalui Kepala Seksi Irigasi dan Air Baku Herry Ade Permana mengatakan pembasahan sebelumnya telah dilakukan di Blok F Tegal Arum. Sementara Blok E dan C juga menunjukkan kondisi lebih basah setelah dilakukan pemompaan.
“Target kita selanjutnya hari ini adalah mempersiapkan pembasahan di daerah Jalan Bandara, tepatnya di sekitar SPBU,” ujar Herry.
Kawasan tersebut menjadi perhatian karena berada di antara Sungai Kemuning dan jaringan drainase kawasan bandara. PUPR Kalsel menyiapkan pola pembasahan dengan mengombinasikan kisdam atau tabat dan pompa untuk menaikkan elevasi air.
“Kita akan melakukan pembasahan dengan beberapa konsep tabat atau kisdam. Dengan pola kisdam dan pompa kombinasi ini, kita mencoba menaikkan elevasi air yang ada di Jalan Bandara,” jelasnya.
Sebanyak 20 unit pompa dompeng disiapkan untuk menyedot air dan mempercepat pembasahan kawasan sekitar Jalan Bandara hingga mendekati SPBU. Pembasahan dilakukan secara estafet agar kelembapan kawasan di sisi SPBU hingga sekitar Masjid Kapal Muzalan tetap terjaga.
Selain pembasahan, PUPR Kalsel melakukan pemeliharaan dan pendalaman embung di kawasan Guntung Damar. Pekerjaan yang telah berlangsung lebih dari sebulan itu ditujukan untuk meningkatkan kapasitas sekaligus elevasi air.
“Embung ini sudah lebih dari satu bulan kita lakukan pendalaman dan pemeliharaan. Tujuannya untuk menyediakan elevasi air yang cukup tinggi sehingga helikopter water bombing bisa mengambil air di embung,” katanya.
Embung Guntung Damar diharapkan menjadi sumber air pendukung operasi pemadaman karhutla, terutama ketika penanganan membutuhkan water bombing. Sejumlah pintu air juga masih dalam proses pembangunan untuk meningkatkan fungsi retensi dan menjaga ketinggian air.
Herry mengatakan salah satu persoalan pada lahan gambut adalah penurunan elevasi tanah yang menyebabkan lapisan gambut semakin kering dan mudah terbakar.
“Karhutla terjadi karena turunnya elevasi tanah yang sangat signifikan, yang mengakibatkan perakaran dan gambut menjadi kering. Ini yang mesti kita jaga dengan sistem tata kelola air yang baik,” terangnya.
Menurutnya, tabat, pintu air, saluran irigasi, dan embung yang dikelola secara terpadu menjadi bagian penting dalam mempertahankan kelembapan gambut.
“Dengan adanya beberapa tabat atau pintu air yang kita kombinasikan, tentu akan menjaga kelembaban tanah itu sendiri. Sehingga gambut harus tetap terjaga,” pungkasnya(mckalsel/lnk).

