BANJARBARU LENTERAKALIMANTAN.NET

Sebanyak 12 ekor bekantan ditemukan mati terbakar akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda habitat satwa dilindungi di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan.

Jumlah tersebut bertambah dari laporan awal yang menyebutkan 10 bekantan menjadi korban. Hasil pengecekan lapangan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalsel memastikan 12 satwa ditemukan mati akibat kebakaran.

Kepala BKSDA Kalsel, Agus Ngurah Krisna Kepakisan, mengatakan informasi kejadian diterima pihaknya pada Minggu malam, 13 September 2026. Tim wildlife rescue kemudian dikerahkan ke lokasi pada Senin pagi untuk melakukan pemeriksaan.

“Jadi, kabar tersebut kami terima pada Minggu malam, dan Senin paginya kami langsung memerintahkan tim penyelamat satwa untuk turun ke lokasi kejadian di Desa Balimau, Kecamatan Kalumpang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, guna melakukan pengecekan lapangan,” ujar Agus di Banjarbaru, Kamis (17/9/2026).

Tim BKSDA berkoordinasi dengan aparat desa, kepala desa, dan masyarakat untuk menyisir kawasan sepanjang sungai. Dari penyisiran tersebut, ditemukan 12 bekantan yang terdampak karhutla.

“Dari informasi awal, bekantan yang menjadi korban ada 10 ekor. Namun, setelah dilakukan pengecekan lapangan, ternyata ada 12 ekor yang terdampak. Tim pun melakukan pemeriksaan dan memastikan bahwa satwa tersebut benar-benar mati terbakar, kemudian dikuburkan bersama dengan disaksikan oleh kepala desa beserta masyarakat,” jelasnya.

Karhutla diketahui membakar lahan sekitar 9 hektare. Di tengah kawasan terdampak, tim juga menemukan kelompok bekantan lain yang masih bertahan di luar area kebakaran.

Sebanyak 32 ekor bekantan dari kelompok yang sama ditemukan dalam kondisi hidup di lokasi berbeda.

“Dijumpai ada 32 ekor bekantan dari kelompok yang sama yang masih hidup. Mereka berada di tempat lain, di sisi berbeda dari lokasi kebakaran,” tutur Agus.

Berdasarkan keterangan kepala desa dan hasil peninjauan lapangan, api diduga berasal dari luar habitat bekantan. Angin kencang kemudian membuat api merembet ke kawasan habitat pada sore menjelang malam hari.

“Dari keterangan kepala desa, api itu memang bukan berasal dari desa setempat. Api diduga berasal dari tempat lain yang terbawa angin hingga merembet masuk ke area habitat bekantan ini,” ungkapnya.

Agus menyebut masyarakat bersama pemerintah desa selama ini telah berupaya menjaga kawasan tersebut. Sejak 2016, sejumlah papan peringatan dipasang dan kegiatan pelestarian lingkungan juga didokumentasikan melalui media sosial.

BKSDA Kalsel menyatakan prihatin atas kematian belasan bekantan tersebut. Satwa yang dilindungi dan menjadi ikon Kalimantan Selatan itu dinilai membutuhkan perhatian bersama, khususnya dalam menjaga habitat dari ancaman karhutla.

“Kami juga prihatin dan sangat terpukul, apalagi bekantan ini merupakan satwa yang dilindungi dan menjadi ikon Kalimantan Selatan. Kami mengharapkan para pemerhati lingkungan dapat bekerja sama menjaga satwa-satwa yang ada di Kalsel,” kata Agus.

Berdasarkan catatan BKSDA Kalsel, populasi bekantan di Kalimantan Selatan pada 2025 diperkirakan mencapai sekitar 3.700 individu. Sekitar sepertiganya berada di kawasan konservasi, sedangkan dua pertiga lainnya berada di luar kawasan konservasi, termasuk hutan produksi, hutan lindung, dan areal penggunaan lain (APL).

Habitat bekantan yang terdampak karhutla di Balimau berada di kawasan APL yang merupakan tanah milik desa setempat. Kondisi ini menjadi perhatian BKSDA karena sebagian besar populasi bekantan Kalsel berada di luar kawasan konservasi.

Ke depan, BKSDA Kalsel akan memperkuat pendataan kawasan APL yang menjadi habitat satwa liar. Upaya tersebut mencakup sosialisasi bersama pemerintah desa, optimalisasi pusat penyelamatan satwa melalui layanan call center, serta mendorong penetapan area preservasi baru berbasis resor.

Langkah tersebut ditujukan untuk memperkuat perlindungan habitat satwa liar di luar kawasan konservasi tanpa mengubah status kepemilikan tanah masyarakat. (mckalsel/sugi).