PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanik) Kabupaten Murung Raya meningkatkan intensitas pendampingan bagi para petani ladang perbukitan (tanah gunungan) menjelang datangnya musim tugal—tradisi tanam padi gunung khas suku Dayak. Langkah ini diambil guna menjaga ketahanan pangan pedalaman Bumi Tana Malai Tolung Lingu di tengah ancaman kemarau panjang.
Kepala Distanik Murung Raya, Sri Karyawati, menyatakan bahwa petani tanah gunungan merupakan garda terdepan ketahanan pangan daerah yang memiliki kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim ekstrem.
“Petani tanah gunungan adalah kekuatan pangan kita. Di tengah kemarau, mereka menghadapi tantangan paling berat. Karena itu, pendekatan budidaya harus lebih cermat, adaptif, dan tetap berpegang pada budaya Handep Haduhup,” kata Sri Karyawati saat dihubungi melalui pesan WhatsApp, Jumat (19/9/2026).
Keterbatasan akses fisik akibat paparan kabut asap dan surutnya jalur transportasi sungai sempat menahan laju tim lapangan Distanik untuk menjangkau wilayah pelosok. Sebagai solusinya, edukasi dan Bimbingan Teknis (Bimtek) dialihkan secara daring memanfaatkan media komunikasi digital.
“Atas ketidaknyamanan ini kami mohon maaf dan mohon dimaklumi. Ada beberapa kecamatan dan desa pedalaman yang belum bisa kami kunjungi karena efek kemarau panjang. Namun kami tetap berusaha memberikan penyuluhan dengan cara apapun,” ujar Sri Karyawati menjelaskan skema darurat tersebut.
Untuk memastikan hasil panen tetap optimal di lahan perbukitan yang kering dan berasam tinggi, Distanik merumuskan lima panduan teknis wajib bagi para petani ladang:
-
Pengelolaan Lahan Bebas Bakar Berlebihan: Memilih lahan berkemiringan sedang, membuat sekat bakar, serta membangun terasering sederhana untuk mengendalikan erosi dan mengunci kelembaban tanah.
-
Penggunaan Benih Padi Gogo Adaptif: Mengutamakan varietas padi gogo lokal berumur pendek yang tahan kekeringan serta adaptif terhadap karakteristik tanah masam.
-
Teknik Tugal Gotong Royong (Handep Haduhup): Penanaman dilakukan serentak secara bersama-sama. Lubang tugal dibuat dengan kedalaman 3–5 cm dan diisi 3–5 biji benih per lubang.
-
Konservasi Air dan Mulsa Alami: Pembuatan rorak (lubang resapan) di area sekitar ladang dan penutupan permukaan tanah menggunakan sisa dedaunan guna menekan laju penguapan air.
-
Pola Tumpang Sari Pembatas Hama: Menanami sela-sela tanaman utama dengan jagung, kacang tanah, labu, dan timun sebagai cadangan pangan sekaligus benteng vegetasi alami penahan hama.
Sri Karyawati menegaskan bahwa efektivitas teknologi pertanian adaptif ini sangat bergantung pada keberlanjutan ekosistem tanah dan solidaritas sosial masyarakat.
“Di tanah gunungan, kuncinya adalah menjaga tanah tetap hidup. Jangan bakar sembarangan, jaga humus, dan kerjakan secara bersama. Dengan Handep Haduhup, ladang di atas bukit pun akan memberikan hasil yang melimpah,” tuturnya.
Melalui perpaduan kearifan lokal dan penerapan teknik pertanian adaptif ini, Distanik Murung Raya optimistis lumbung pangan di desa-desa pedalaman akan tetap tangguh menghadapi dampak kemarau.


