
BANJARBARU LENTERAKALIMANTAN.NET
Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menilai penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan relatif terkendali. Kendati jumlah titik panas (hotspot) menunjukkan tren penurunan dibanding provinsi lain di Pulau Kalimantan, Pemprov Kalsel dan seluruh pihak terkait diimbau tidak lengah terhadap potensi kebakaran susulan pada lahan gambut.
Penegasan tersebut disampaikan Menhut Raja Juli Antoni saat meninjau lokasi kebakaran di Hutan Lindung Liang Anggang, Kecamatan Landasan Ulin Barat, Banjarbaru, Senin (12/10/2026), didampingi Gubernur Kalsel H. Muhidin beserta jajaran Forkopimda.
Berdasarkan pemantauan aplikasi Sipongi, Menhut mengapresiasi capaian Kalsel yang mencatatkan jumlah hotspot terendah di Kalimantan. Namun, ia mengingatkan agar penurunan angka tersebut tidak mengendurkan kesiapsiagaan menjelang prediksi masuknya musim hujan pada pertengahan November 2026.
“Alhamdulillah, per hari ini angka hotspot di Kalimantan Selatan terbaik di Kalimantan. Meskipun begitu, kita jangan sampai lengah karena kita masih punya tantangan besar. Kita tahu karakteristik gambut, jika dibiarkan bara apinya, kebakaran ini suatu waktu bisa meledak kembali,” ujar Raja Juli Antoni.
Menhut juga mengimbau masyarakat untuk menghentikan praktik pembersihan lahan dengan cara membakar guna meredam beban operasional para relawan dan petugas pemadam di lapangan.
Sementara itu, Gubernur Kalsel H. Muhidin memaparkan bahwa pemda memfokuskan pengerahan 150 personel gabungan dan relawan pada wilayah prioritas ring 1 Bandara, mencakup Banjarbaru, Banjar, Tanah Laut, dan Barito Kuala. Menjelang puncak mitigasi, upaya Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Kalsel bagian selatan masih terkendala minimnya potensi awan hujan dibandingkan wilayah utara Banua(mckalsel/lnk).

