
PURUK CAHU, LENTERAKALIMANTAN.NET— Pekatnya kabut asap akibat kemarau panjang yang menyelimuti alur Sungai Barito kian memicu ancaman serius bagi keselamatan pelayaran di Kabupaten Murung Raya, Kalimantan Tengah. Menanggapi jarak pandang yang merosot drastis, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Murung Raya mendesak seluruh operator taksi air untuk memprioritaskan keselamatan jiwa di atas keuntungan komersial.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Murung Raya, H. Johansyah, menegaskan agar para pengusaha dan motoris transportasi sungai—yang menjadi urat nadi mobilitas warga Bumi Tana Malai Tolung Lingu—tidak memaksakan pelayaran di tengah jarak pandang yang membahayakan.
“Kurangi muatan barang, utamakan keselamatan penumpang. Jangan memaksakan berlayar jika kondisi kabut sangat pekat dan membahayakan,” tegas Johansyah saat memberikan keterangan di Puruk Cahu, Rabu, 16 September 2026.
Menurut Johansyah, kepatuhan terhadap instruksi lembaga berwenang menjadi kunci utama pencegahan kecelakaan di perairan. Ia meminta operator armada sungai aktif berkoordinasi dan mengikuti panduan navigasi harian dari Dinas Perhubungan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), hingga pihak Syahbandar sebelum bertolak dari dermaga.
Selain pembatasan muatan, Johansyah menggarisbawahi pentingnya pemeriksaan teknis armada secara menyeluruh. Setiap taksi air diwajibkan menyiagakan alat keselamatan standar, meliputi jaket pelampung (life jacket), lampu navigasi penembus kabut, alat komunikasi radio yang berfungsi baik, hingga perbekalan darurat.
“Keselamatan adalah harga mati. Pastikan semua perlengkapan sudah siap, kondisi mesin perahu dalam keadaan prima, dan selalu waspada terhadap perubahan cuaca serta ketebalan kabut di sepanjang Alur Sungai Barito,” ujarnya menandaskan.
Jalur perairan Sungai Barito hingga kini masih menjadi pilihan utama masyarakat Murung Raya untuk mobilitas antardesa dan kecamatan. Namun, meningkatnya ketebalan kabut asap saban pagi dan sore hari sepanjang musim kemarau 2026 ini meningkatkan risiko benturan antar-armada maupun pendangkalan alur sungai.
DPRD berharap para pelaku usaha taksi air dapat mengambil peran sebagai garda terdepan dalam menekan risiko kecelakaan navigasi, sehingga ancaman bencana asap tahunan ini tidak berujung pada tragedi kemanusiaan di perairan Barito.

