Ilustrasi investasi Djarum Rp24,6 triliun ke luar negeri untuk diversifikasi bisnis dan memperkuat rantai pasok.
Ilustrasi investasi global Djarum senilai sekitar Rp24,6 triliun yang disebut sebagai langkah diversifikasi bisnis dan penguatan rantai pasok, bukan pemindahan aset. (Credit: Ilustrasi AI/REDAKSINDO)

JAKARTA, LENTERAKALIMANTAN.NET Angka Rp24,64 triliun tentu bukan nilai yang kecil. Ketika investasi keluarga Hartono senilai sekitar 1,4 miliar dolar AS disebut mengalir ke luar negeri, pertanyaan pun bermunculan: apakah salah satu keluarga konglomerat terbesar Indonesia sedang menggeser asetnya meninggalkan Tanah Air?

PT Djarum memberikan jawaban berbeda.

Perusahaan asal Kudus, Jawa Tengah, itu menegaskan investasi tersebut bukanlah langkah memindahkan aset akibat perubahan iklim usaha di Indonesia. Menurut Djarum, transaksi itu merupakan bagian dari strategi diversifikasi sekaligus memperkuat rantai pasok industri utamanya.

Dilansir dari Money Kompas.com, Manager Corporate Communications Djarum, Budi Darmawan, menjelaskan perusahaan mengakuisisi pabrik kertas yang memiliki hubungan langsung dengan kebutuhan industri hasil tembakau.

“Ini diversifikasi bisnis. Kami di Djarum memang mengakuisisi pabrik kertas untuk rokok, yaitu SWM dan Tantapier,” kata Budi, Kamis (10/9/2026) malam, sebagaimana dikutip dari Kompas.com.

Perusahaan yang diakuisisi tersebut memproduksi berbagai kebutuhan industri rokok, mulai dari pembungkus batang rokok, kertas pembungkus filter, hingga material untuk kemasan.

Dengan demikian, investasi bernilai jumbo itu, menurut Djarum, tidak berdiri sebagai ekspansi finansial semata. Akuisisi tersebut ditempatkan sebagai bagian dari mata rantai produksi perusahaan.

Jejak Akuisisi Dimulai Sejak 2023

Waktu pelaksanaan transaksi menjadi salah satu hal yang ditekankan Djarum.

Budi menyebut proses pengambilalihan dan akuisisi perusahaan di luar negeri sudah dilakukan sejak 2023 hingga 2024, ketika pemerintahan Indonesia masih dipimpin Presiden Joko Widodo.

Penjelasan tersebut disampaikan Djarum untuk membantah anggapan bahwa investasi keluarga Hartono ke luar negeri merupakan respons terhadap iklim usaha Indonesia saat ini.

“Faktanya, afiliasi pengambilalihan dan akuisisi ini dilakukan di tahun 2023, pada zaman Presiden Jokowi,” ujar Budi.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi respons atas pemberitaan mengenai investasi keluarga Hartono yang dikaitkan dengan perpindahan aset ke luar Indonesia.

Djarum menegaskan motif di balik transaksi itu adalah kepentingan bisnis dan penguatan rantai industri.

Gunakan Pembiayaan Asing

Menariknya, Djarum juga mengungkap bahwa investasi tersebut tidak sepenuhnya mengandalkan dana internal perusahaan.

Untuk membiayai akuisisi, perusahaan menggunakan fasilitas pembiayaan asing dalam bentuk pinjaman.

“Ini bagian dari langkah strategis industri hasil tembakau Djarum untuk memperkuat lini kita. Akuisisi ini dilakukan pada zaman Presiden Jokowi, 2023-2024. Alhamdulillah dengan menggunakan pembiayaan asing, pinjaman, jadi kita memperkuat lini kita,” papar Budi.

Skema tersebut menunjukkan bahwa ekspansi internasional Djarum diarahkan pada penguasaan bagian penting dalam rantai pasok bisnisnya.

Dalam industri berskala besar, kontrol terhadap bahan baku dan komponen produksi dapat menjadi elemen strategis untuk menjaga efisiensi, kontinuitas pasokan, serta daya saing perusahaan.

Djarum Klaim Lebih dari 90 Persen Bisnis Tetap di Indonesia

Di tengah sorotan terhadap investasi bernilai miliaran dolar AS di luar negeri, Djarum juga menegaskan pusat kegiatan bisnis perusahaan masih berada di Indonesia.

Menurut Budi, lebih dari 90 persen aktivitas bisnis Djarum masih berlangsung di dalam negeri.

“Jadi sebenarnya Djarum itu hampir lebih dari 90 persen bisnisnya di Indonesia,” katanya.

Ia mengatakan keluarga Hartono tetap memiliki komitmen untuk ikut berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi nasional.

Budi menyebut komitmen itu merupakan bagian dari cita-cita pemilik Djarum, Budi Hartono dan keluarga Hartono, untuk ikut mendorong kesejahteraan masyarakat Indonesia.

“Kenapa 90 persen bisnisnya di Indonesia? Karena cita-cita owner kita, Pak Budi Hartono dan Pak Bambang Hartono, sebagai warga negara, sebagai rakyat Indonesia, ingin ikut membangun kesejahteraan dan kemakmuran di Indonesia, negara yang kita cintai ini,” ujar Budi seperti dilansir Money Kompas.com.

Gurita Bisnis yang Jauh Melampaui Rokok

Nama Djarum selama puluhan tahun identik dengan industri hasil tembakau. Namun dalam perkembangannya, jaringan bisnis keluarga Hartono telah menjalar jauh melampaui sektor tersebut.

Portofolio bisnis grup ini antara lain mencakup sektor perbankan, properti, telekomunikasi, hingga sejumlah investasi strategis lainnya.

Salah satu instrumen penting dalam jaringan investasi Grup Djarum adalah PT Dwimuria Investama Andalan, perusahaan holding investasi yang juga menjadi pemegang saham mayoritas PT Bank Central Asia Tbk atau BCA.

Di bidang properti, jaringan bisnis Grup Djarum juga memiliki sejumlah aset strategis.

Salah satunya melalui PT Cipta Karya Bumi Indah yang memenangkan pengelolaan kawasan Grand Indonesia pada 2004.

Kawasan tersebut berada di salah satu titik paling strategis Jakarta, di atas area bekas Hotel Indonesia Intercontinental.

Hotel Indonesia sendiri memiliki sejarah panjang karena diresmikan Presiden Soekarno pada 5 Agustus 1962 menjelang pelaksanaan Asian Games IV.

Dalam proses revitalisasinya, kawasan itu kemudian berkembang menjadi Grand Indonesia Superblock, yang terdiri dari Grand Indonesia Shopping Town, Hotel Indonesia Kempinski, serta Menara BCA.

Transformasi tersebut memperlihatkan bagaimana bisnis keluarga Hartono telah berkembang dari sebuah perusahaan rokok di Kudus menjadi salah satu kelompok bisnis dengan portofolio paling luas di Indonesia.

Ekspansi Global, Akar Bisnis Tetap di Dalam Negeri

Investasi Rp24,64 triliun ke luar negeri pada akhirnya menjadi gambaran bagaimana korporasi besar Indonesia mulai membangun rantai pasok melintasi batas negara.

Namun, Djarum ingin memberi garis tegas: ekspansi global tidak berarti meninggalkan Indonesia.

Akuisisi SWM dan Tantapier, menurut perusahaan, justru menjadi upaya memperkuat bisnis utama dengan menguasai perusahaan yang menghasilkan komponen penting bagi industri rokok.

Sementara sebagian besar kegiatan usaha Grup Djarum, berdasarkan keterangan perusahaan, tetap berada di Indonesia.

Di tengah perdebatan mengenai arah modal para konglomerat nasional, investasi keluarga Hartono tersebut menunjukkan satu hal: batas antara bisnis domestik dan ekspansi internasional kini semakin tipis.

Bagi perusahaan sebesar Djarum, pabrik di luar negeri dapat menjadi bagian dari sebuah rantai produksi global—sementara pusat bisnis, pasar, dan sebagian besar investasinya tetap bertumpu di Indonesia.