
PURUK CAHU — LENTERAKALIMANTAN.NET
Bupati Murung Raya, Heriyus Midel Yoseph, memilih menyerap aspirasi warga secara mendadak di sebuah kedai kopi lokal Puruk Cahu pada Sabtu malam, 12 September 2026. Diskusi lesehan tanpa sekat protokoler ini dimanfaatkan warga untuk mengadukan dampak kemarau panjang yang mulai memicu krisis air bersih hingga ancaman kelangkaan bahan bakar minyak (BBM).
Dalam tatap muka informal tersebut, Heriyus—yang akrab disapa Bung Heri—mendengar langsung lonjakan kekhawatiran masyarakat dari sektor ekonomi, infrastruktur, pendidikan, hingga kesehatan. Dampak kemarau yang makin meluas menjadi sorotan utama warga, terutama terkait ancaman keterpurukan sektor pertanian dan tersendatnya pasokan logistik harian.
“Pemerintah harus hadir di tengah masyarakat. Dengan ngopi seperti ini kita bisa tahu apa yang sebenarnya dirasakan rakyat. Tidak ada jarak, tidak ada sekat,” ujar Heriyus di sela-sela dialog bersama warga.
Merespons aduan tersebut, Heriyus menginstruksikan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait untuk segera mengambil langkah antisipatif di lapangan. Evaluasi kebijakan akan difokuskan pada menjaga stabilitas harga bahan pokok, menjamin kelancaran distribusi BBM, serta menyalurkan bantuan darurat kekeringan agar pelayanan dasar warga tidak terganggu.
Bagi Heriyus, pola komunikasi dari bawah ke atas (bottom-up) menjadi kunci penentu efektivitas kebijakan daerah. Formula penyusunan program pembangunan dianggap tidak boleh hanya bersumber dari balik meja birokrasi, melainkan dari realitas di lapangan.
“Pembangunan yang baik itu lahir dari obrolan di bawah. Dari warung kopi, dari pasar, dari desa. Karena di sanalah denyut nadi masyarakat yang sesungguhnya,” kata Heriyus.
Langkah responsif ini mendapat respons positif dari warga yang hadir. Pendekatan dialog terbuka di ruang publik ini dinilai efektif memotong jalur birokrasi, sehingga keluhan kritis masyarakat terkait krisis musim kemarau dapat ditangani dengan cepat oleh pemerintah daerah.
(Muslim)

