
BANJARMASIN — LENTERAKALIMANTAN.NET-
Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Pembela Kesatuan Tanah Air Indonesia Bersatu (PEKAT IB) Kota Banjarmasin Provinsi Kalimantan Selatan menggelar acara silaturahmi rutin yang diadakan dua kali dalam setahun. Pertemuan yang berlangsung di Rumah Makan (RM) Wong Solo di Jalan Gotot Subroto Banjarmasin ini dihadiri oleh para pengurus DPW PEKAT IB, Srikandi PEKAT IB,Pimpinan organisasi Perusahaan media, Pengurus Ormas Gepak Kalsel serta rekan-rekan wartawan.
Ketua DPW PEKAT IB Kota Banjarmasin H.Suriansyah menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam atas kehadiran para anggota serta awak media. Namun, di tengah suasana silaturahmi tersebut, pihak PEKAT IB menyoroti kondisi darurat dan situasi bencana yang tengah melanda wilayah Kalimantan Selatan saat ini, khususnya terkait kabut asap dan matinya pasokan air bersih (PDAM).
H.Suriansyah selaku Ketua DPD PEKAT IB menyatakan keprihatinan yang mendalam atas kabut asap yang sangat memprihatinkan dan membahayakan masyarakat luas. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu aktivitas warga, terutama anak-anak yang harus bersekolah serta para orang tua yang harus bekerja.
Pihaknya mendesak pemerintah terkait, khususnya Wali Kota Banjarmasin dan Gubernur Kalimantan Selatan, untuk tidak tinggal diam dan segera mengambil tindakan nyata. Bantuan dan dana yang tersedia diminta agar benar-benar difokuskan untuk pencegahan dan penanggulangan kabut asap tersebut.
“Jangan hanya duduk di kursi kerajaan setelah terpilih. Coba lihat masyarakat dengan adanya bencana ini,” tegasnya.
Ketua PEKAT IB Kalsel. Ia juga membandingkan kontrasnya perhatian para pejabat dan anggota legislatif saat masa kampanye—di mana mereka membagikan masker dan sembako—dengan kondisi genting saat ini ketika masyarakat justru kesulitan bekerja, mencari makan, dan memenuhi kebutuhan anak-anak para Pejabat dan wakil rakyat kemana?
Dalam kesempatan yang sama, Ketua PEKAT IB mengimbau masyarakat Kalimantan Selatan agar berhati-hati dan menghindari tindakan pembakaran lahan di tengah musim kemarau panjang saat ini. Dampak pembakaran dinilai sangat membahayakan, terutama karena asap pekat dapat dengan mudah menjalar dan membahayakan kesehatan serta keselamatan warga di permukiman.
Selain kabut asap, persoalan matinya aliran PDAM juga menjadi sorotan tajam. Di wilayah Banjarmasin Timur misalnya, pasokan air bersih dilaporkan hanya mengalir selama 2 hingga 3 jam dalam sehari sebelum akhirnya mati total. Krisis air bersih ini sangat berdampak buruk karena air merupakan kebutuhan vital yang tidak bisa ditawar bagi masyarakat.
”Selama ini, pihak PEKAT IB Kota Banjarmasin telah berupaya membantu masyarakat secara swadaya dengan membagikan masker serta memberikan bantuan sembako seadanya kepada warga yang tidak dapat bekerja akibat musibah ini,” ungkap Suri.
Sebagai bentuk komitmen lanjutan, PEKAT IB juga membuka pintu seluas-luasnya bagi masyarakat yang terdampak dan memerlukan konsultasi atau pendampingan hukum. Warga dipersilakan datang langsung ke kantor sekretariat PEKAT IB yang beralamat di Komplek Cahaya, RT 021, Nomor 44, Kilometer 5, Banjarmasin, atau menghubungi pengurus terkait untuk mendapatkan bantuan hukum atas permasalahan yang dihadapi akibat situasi ini.
PEKAT IB berharap pemerintah daerah segera bergerak cepat dan tidak menunggu aksi unjuk rasa dari masyarakat demi mengatasi krisis kabut asap yang sudah berlangsung hampir empat bulan terakhir ditambah dengan saat ini kesulitan mendapatkan pasokan air bersih.

