BANJARBARU LENTERAKALIMANTAN.NET

Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan RI Hanif Faisol Nurofiq mendorong pemanfaatan teknologi untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya dalam mendeteksi sumber panas yang berada di bawah permukaan gambut.
Menurut Hanif, pengalaman penanganan karhutla di Kalimantan Selatan menunjukkan perlunya pergeseran dari metode konvensional menuju pendekatan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.
Hal itu disampaikannya seusai mengikuti rapat koordinasi penanganan karhutla di Poslap 1 Guntung Damar, Banjarbaru, Jumat (4/9/2026) sore.
Salah satu teknologi yang mendapat perhatian ialah thermal drone atau drone termal yang mampu mendeteksi panas di dalam lapisan gambut.
“Penggunaan thermal drone yang mampu mengidentifikasi panas di dalam gambut ini menjadi sangat efektif untuk kita petakan,” kata Hanif.
Ia menilai pemadaman di permukaan belum cukup apabila masih terdapat bara atau sumber panas di bawah gambut. Pembasahan dengan metode konvensional juga dinilai belum sepenuhnya efektif untuk kondisi tersebut.
“Teknologi konvensional yang kita lakukan dengan pembasahan selama ini tidak kemudian memadai untuk itu,” ujarnya.
Hanif mencontohkan pengalaman di lapangan ketika sekitar 50 pompa digunakan untuk membasahi lokasi kebakaran. Namun, setelah pompa dipindahkan, api kembali muncul di lokasi yang sama.
“Kita lihat di pengalaman, tidak kurang mungkin ada 50 pompa diturunkan. Begitu pompa dipindah, besoknya ada fase berikutnya nyala lagi. Artinya, kerositas yang cukup tinggi harus kemudian dilakukan langkah-langkah yang lebih berbasis ilmu pengetahuan,” jelasnya.
Selain thermal drone, Hanif menyoroti pengembangan metode suntik gambut serta penggunaan formula berbahan turunan CPO dan surfaktan yang sedang diuji jajaran Polda Kalsel.
Menurutnya, berbagai teknologi dan metode tersebut perlu diuji secara ilmiah untuk memastikan efektivitasnya, termasuk dalam menghemat penggunaan air saat penanganan karhutla.
“Kalau ini memang terbukti, maka ini harus kita lakukan pendalaman. Karena mengingat keterbatasan air cukup sangat dalam, cukup sangat mengkhawatirkan,” katanya.
Hanif menegaskan pengendalian karhutla ke depan harus semakin mengedepankan pendekatan saintifik agar sumber panas di bawah permukaan gambut dapat dideteksi dan ditangani secara lebih efektif.